DESEMBER: SEDIA AKU SEBELUM HUJAN

sumber gambar: https://shorturl.at/pyHHo 

Masih tentang Desember….

Desember selalu datang seperti halaman terakhir dalam sebuah buku harian yang tak pernah benar-benar selesai. Udara mulai lembap, langit sering murung, dan di antara rintik yang turun perlahan, manusia menemukan jeda untuk menata ulang hatinya. Di bulan ini, kita sering merasa dekat dengan diri sendiri: seakan ada ruang untuk menatap ke dalam, untuk kembali mengukur arah hidup, dan untuk bertanya apakah kita sudah sedia menghadapi apa pun yang mungkin turun, sebelum hujan mengujani seluruh rencana.

“Sedia aku sebelum hujan” bukan hanya soal payung atau mantel, tapi perihal kesiapan batin menghadapi perubahan. Desember, pada akhirnya, mengajarkan bahwa hidup selalu datang dalam bentuk cuaca: kadang cerah, kadang mendung, kadang deras, tapi selalu mengandung cerita.


Desember Sebagai Ruang Pulang

Desember membawa aroma pulang: entah pulang pada keluarga, pulang pada seseorang, atau pulang pada versi diri yang pernah tersesat di tengah tahun. Bulan ini memeluk kita dengan ritme yang lebih lambat, memaksa kita berhenti sejenak untuk mendengar suara hati yang sering tertutup oleh bisingnya ambisi.

Di antara gemerisik hujan, kita menemukan bahwa pulang tidak selalu tentang tempat, tapi tentang perasaan aman. Tentang mengenali batas diri dan mengakui bahwa tidak apa-apa menjadi rapuh. Desember mengizinkan kita untuk menaruh letih di pangkuannya.

 

Hujan: Simbol Yang Menguji & Menyucikan

Hujan di Desember seperti guru sabar yang datang berulang-ulang. Ia mengetuk jendela, menetes di genting, dan menyusup perlahan ke dalam ruang-ruang pikiran. Hujan menguji: apakah kita masih mampu berjalan ketika jalan licin? Apakah kita masih punya keberanian melanjutkan langkah meski pandangan buram?

Namun hujan juga menyucikan. Ia menghapus debu jalan, butir-butir kecewa, dan sisa emosi yang tertahan terlalu lama. Dalam derasnya, ada ruang untuk mulai dari awal, untuk membersihkan apa pun yang terasa menumpuk di dada. Hujan tidak selalu membawa dingin: kadang ia membawa kesempatan.

 

Sedia Aku: Tentang Kesiapan yang Pelan-Pelan Kita Bentuk

Ada masa ketika kita menunggu hujan tanpa payung, pura-pura berani padahal tangan gemetar. Tapi lama-kelamaan, hidup mengajarkan bahwa kesiapan bukan soal menjadi kuat sejak awal, melainkan soal membiarkan diri belajar.

“Sedia aku sebelum hujan” berarti merawat hati sebelum terluka, menguatkan diri sebelum jatuh, dan memahami bahwa antisipasi sering kali lebih penting daripada penyesalan. Ini tentang mengakui bahwa hidup tidak selalu bisa diprediksi, tapi kita bisa menjaga diri agar tidak runtuh saat badai tiba.

Kesiapan adalah proses. Pelan, tapi pasti. Jadi enjoy saja.

 

Menutup Tahun, Menerima Diri

Desember mendekatkan kita pada angka-angka yang akan segera berganti. Tapi sesungguhnya, bukan pergantian tahun yang penting: melainkan cara kita menerima diri setelah perjalanan panjang.

Apakah aku sudah cukup berterima kasih pada diriku sendiri? Apakah aku sudah meminta maaf atas hal-hal yang tak mampu kutuntaskan? Apakah aku sudah benar-benar sedia untuk hidup yang akan terus bergerak?

Desember memberi ruang untuk merapikan jawaban-jawaban itu.

 

Kesimpulan

Desember dan hujan adalah dua hal yang mengajarkan kita hal serupa: segalanya datang pada waktunya, dan kita hanya perlu menyiapkan hati. “Sedia aku sebelum hujan” bukan hanya kalimat, tapi doa yang berlapis makna: bahwa apa pun yang datang, kita berharap mampu menerimanya dengan tenang.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa sering kita kehujanan, melainkan tentang bagaimana kita belajar mengeringkan diri, memakai payung baru, dan tetap berjalan maju. Desember hanya mengingatkan: betapa indahnya hidup ketika kita sedia.


Komentar

Suara Indonesia mengatakan…
Makasih Egha🙌🫶
Alicia mengatakan…
Keren banget kaka frater Imus Loko ✊️🤗tetap semangat ya kak Imus moga dapat melayani Tuhan dengan lebih lebih lagi dan sukses dalam segala hal yang di lakukan. Amin GBU 😇🙏👌

Postingan populer dari blog ini

ESTETIKA JAWA DIGUGAT

KETIKA ALAM MENULIS TRAGEDI

DESEMBER DAN PERSIAPAN NATAL